Latest Posts

0

Berkaca? Hah?

Ratna Mnc Friday, April 27, 2012
Sakit sekali ketika maksud baik kita ditangkap mentah-mentah oleh kebanyakan orang, ditanggapi dengan persepsi negatif. Aku peduli pada angkatanku, aku peduli pada himpunanku. Aku merasa sudah semaksimal mungkin menyeimbangkan antara di dalam dan luar. Masih salah? Aku emang ingin di jurusanku banyak yang aktif di luar, lalu itu dianggap meninggalkan himpunan? Itu hanya pikiran kalian kan? itu hanya emosi kalian, dan pikiran kolot turun-temurun. Bukankah aku sudah ngomong: ILMU YANG DIDAPAT DI LUAR NANTINYA DIAPLIKASIKAN DI HIMPUNAN. ILMU YANG DIDAPAT DI LUAR NANTINYA DIAPLIKASIKAN DI HIMPUNAN. ILMU YANG DIDAPAT DI LUAR NANTINYA DIAPLIKASIKAN DI HIMPUNAN. ILMU YANG DIDAPAT DI LUAR NANTINYA DIAPLIKASIKAN DI HIMPUNAN. tapi kalian tidak membaca itukah? Pernahkah aku berkata tahun depan aku tidak masuk kepengurusan? TIDAK! Jika aku dibutuhkan, aku akan memilih di himpunan tahun depan. Itu sudah kusampaikan. Jujur, di luar aku didengar, dihargai. jauh berbeda dengan di dalam. tapi aku TETAP di dalam kan? tanggung jawabku tetap kujalankan. Membaca orang menulis-nulis tentang kacang lupa kulit, meninggalkan rumah, tidak berkontribusi sedikiiiit saja? Tanyakan pada Kadept Sainstek selama ini aku seperti apa? Tanggung jawabku TIDAK kutinggalkan! AKU INGIN MEMPERBAIKI KONDISI DALAM !!! atau kalian tidak merasa ada yg kurang baik di dalam? merasa semuanya baik-baik saja, begitu? sudah puas dengan kondisi sekarang? kalo memang seperti itu ya susah. Memang, lebih baik menyalakan lilin daripada mengutuk kegelapan. Tapi siapa yg akan menyalakan lilin kalo tidak ada yg sadar di kegelapan? Ini belum saatnya menyalakan lilin. Tapi sebagai org yg SADAR kondisi gelap, aku menyampaikan, agar ada yg menyalakan lilin. Atau aku harus diam saja? Menunggu saatnya ada kesempatan menyalakan lilin dgn tanganku sendiri? Berbicara kontribusi? Oke aku emang hampir tidak pernah ikut BW, tidak ikut kegiatan SENANG-SENANG seperti Sunda, hampir tidak pernah datang ke Denah. Dan itu ada alasannya. Kalo aku berniat "meninggalkan", untuk apa aku ikut PST, CT? Untuk apa? Jawabannya karena aku peduli pada kepengurusan mendatang. Aku ingin berperan, terserah dibutuhkannya sebagai apa. Yg penting, dalam hidup ini kita menebar kebermanfaatan kan? Masalah tidak ikut BW, dan beberapa kegiatan. kalian pikir karena apa? Rapat, gladi bersih proker, dll. aku bicara begini kalian anggap sok sibuk? sok aktif di luar? cobalah dengarkan dari sisi aku. jika kalian ada beberapa kegiatan di waktu yg bersamaan, kalian akan memilih ikut yg mana? kalo jawabanku, aku memilih di kegiatan di mana peranku lebih dibutuhkan, dan ada berapa orang di kegiatan itu? Di himpunan sering ada banyak orang kan? Selain itu, silakan tanya orang-orang BEM, apa aku tidak pernah izin gak ikut sesuatu karena acara himpunan? Jawabannya SERING. Karena aku berusaha seimbang, sekalipun LEBIH NYAMAN di luar. Aku tetap datang kan? Intinya, aku tidak datang BUKAN KARENA MALAS. apa hanya orang-orang yg jadi pengurus di luar yg tidak datang? apa orang yg hanya di dalam sudah sangat loyal, gitu? Bukannya banyak juga yg gak datang, ada yg alasannya besok kuis, dan ada BERAPA BANYAK yang tidak ada alasan jelas? Ada berapa banyak yang hampir tiap minggu pulkam padahal tidak ada keperluan urgent di rumah?? GKM kemarin, sepi kan? ke mana semua????????? Sehimpunan ada berapa orang? Ada berapa org yg tidak datang? BANYAK KAN YG TIDAK AKTIF DI LUAR TAPI JUGA TIDAK DATANG? Itu lho yang aku maksud. Jangan sampai banyak kader yang tidak aktif di dalam tapi NGANGGUR. tidak ikut UKM, tidak aktif di manapun,. Daripada kayak gitu, mending jadi orang penting di luar kan? Bisa membanggakan nama jurusan, nama himpunan. Aku ingin memperbaiki rek.. Masalah himpunan di mata luar, jujur aku malu. Salah ta? Harus bangga? Apa yg dibanggakan? Tapi kalian pikir, ketika aku malu lalu apa yg aku lakukan? Apa kalian kira aku menjelek-jelekkan himpunan sendiri di luar? Aku mikir rek, mikir! Mikir gimana caranya himpunanku jadi lebih baik. Aku mikir apa yg bisa kulakukan untuk memperbaiki? Ato kalian masih merasa semua baik-baik saja, tidak ada yg perlu diperbaiki? Mikir.o juga rek!!!
0

Aku Masih Tetap Sama

Ratna Mnc Sunday, January 15, 2012
Lagi-lagi aku cukup lama malas menulis, padahal banyak peristiwa terlewati. Misalnya tentang perjalanan-perjalanan nekatku tanpa SIM, tentang pembuatan SIM yang sampai sekarang belum kelar, tentang Open Recruitmen staff BEM ITS, tentang UAS,tentang dosen "teladan" itu, dan lain-lain.

Dan sekarang, seperti yang sering terjadi, barulah tangan ini mau menulis ketika menangis. Rasanya aku ingin lari. Aku tidak suka dan tidak mau menangis di rumah, tapi kali ini tak bisa karena "masalah" itu sendiri munculnya di rumah.

Tuhan, aku membangun semangat ini sedikit demi sedikit, hari demi hari. Aku memaksa diriku untuk optimis di tengah kebingungan dan ketidakyakinan. Tapi semua itu dipatahkan dalam sekejap.

Ternyata Aku masih tetap tidak sama seperti yang lainnya. Aku masih diriku, yang berada dalam penjara ini. Tapi setiap saat aku takut kehilangan penjara ini.

Aku tidak ingin berontak tapi aku tersiksa. Aku takut menyakiti tapi aku sendiri merasa sakit.

Tuhan... tunjukkan jalan terbaik.
0

Menantu Idaman Bapakku? n This Error....

Ratna Mnc Tuesday, November 22, 2011
Ragu-ragu menuliskan ini, ah semoga yg bersangkutan tidak membacanya.

It was a nice day in the nice month, sebelum aku melakukan hal bodoh siang ini.
Oh tidaaak! Aku malu. malu. malu. malu! I wanna fold my face, n just silent.... :l

Aku sampe nangis :'(
Aku merusak pertemanan ini. Aku takut yang bersangkutan menjauh, memberi jarak, padahal aku tidak berharap lebih. Tidak ada! Aku hanya kagum, sure! Dan aku senang dengan pertemanan ini. Aku bukan orang yang mudah jatuh cinta, apalagi dengan orang yang aku tidak tahu wujudnya (belum pernah bertemu). Dan setelah kesalahanku ini, mungkin aku sama sekali gak ada keberanian untuk bertemu. Aku merusak segalanya.

Preface..
Kriteria lelaki yang akan disukai Bapakku (buat sama anaknya lho..):

1. Nama yang islami. Ceritanya, dulu seorang yang lebih dari teman yang pernah datang ke rumah, namanya keseluruhan nama Jawa. Lha Bapakku komentar: namanya gak islami sama sekali. Akhirnya terbahaslah hal ini. Aku berkali-kali menentang (dengan sopan tentunya), aku bilang apalah arti sebuah nama (aku tahu nama adalah doa, tapi doa tidak harus berbahasa arab kan, semua bahasa milik Allah). Dan banyak orang-orang bernama yang islami tapi perilakunya sangat jauh dari apa yang diteladankan oleh Rasulullah. Tapi kata Bapak, nama yang islami menunjukkan bahwa orang tuanya (kemungkinan) islami dan berharap anaknya soleh. Menurut Bapak, idealnya nama seorang muslim ada kata "Muhammad", "Ahmad", dan sebagainya. Belakangan ini aku cukup sependapat. Tapi tidak berarti aku menjudge bahwa nama yang tidak islami berarti orangnya tidak islami. Malah salah besar itu. Kepribadian seseorang tidak bisa dinilai hanya dari nama saja. Jadi sebenarnya, ini hanya nilai tambah.

2. Sholat tepat waktu dan berjamaah. Seorang muslim pada umumnya tahu bahwa sholat itu tiang agama. Dan diwajibkan untuk laki-laki agar berjamaah di masjid (atau musholla) ketika sholat 5 waktu, kecuali berhalangan. Tapi rasanya sekarang, masjid atau musholla sering sepi. Bapakku sering menyoroti pemuda zaman sekarang, dan sudah sangat sedikitnya penerus aktivis masjid atau musholla.

3. Sealiran. Ini tidak cuma Bapakku, tapi Ibuku juga. Sejak awal aku diwanti-wanti, jangan dengan yang "berbeda". Aku selalu menentang (dengan sopan lagi), dan berargumen bahwa yang penting islam dan bertaqwa. Semua orang islam sama-sama menyembah Allah dan mengakui Nabi Muhammad sebagai Rasul Allah. Tapi mereka (orang tua) punya alasan tersendiri, juga berdasarkan pengalaman sanak famili, yang terkadang aku berpikir, benar juga.

4. Ini tidak pernah dikatakan oleh Bapakku, tapi aku tahu ini hal yang beliau suka, dan aku juga suka: sholawatan. Aku sudah lama berpikir bahwa kemampuan Bapakku sholawatan (dan menabuh rebana) tidak ada penerusnya, karena masku gak bisa, suaminya mbakku juga gak bisa. Aku kagum ketika ada acara istighosah ato haflah dzikir, pemuda-pemuda (biasanya dari Al Khidmah) membaca sholawat dengan suara emas.

Itu tadi poin-poin yang terkadang aku menyebutnya "kriteria menantu idaman Bapakku" :D

Sedangkan impianku? sewaktu kecil aku bermimpi bisa qiro'ah (seperti Budhe yang sudah terkenal dan diundang dimana-mana), aku ikut semacam bimbingan qiro'ah di TPQ, aku belajar dari kaset. Sempat juga tampil di imtihan (perpisahan anak kelas 6) di MI dulu, seingatku waktu kelas empat, dan tampil di acara diba'an di rumah nenek. But that's past time, masa kecil, sebelum aku sadar suaraku jelek dan nafasku sangat pendek! Dulu juga sering "mbawak" (memimpin bacaan Ya Nabi, atau bacaan diba' yang lain) sewaktu MI, tapi sejak SMP sudah minder dan nafasku gak kuat. Dan berakhirlah impian dan masa lalu itu. Aku iri dengan orang-orang yang punya suara bagus! Aku benar-benar iri. Melewati itu semua, aku ingin anakku kelak bisa seperti keinginan-keinginanku di masa kecil. Tapi, berarti suamiku kelak harus bersuara bagus? Jodoh itu kehendak Allah, semoga Allah menghendaki demikian..

Di antara kelamnya hari-hariku karena pernah salah langkah dan jatuh: aku trauma, aku skeptis, aku pikir sudah begitu langka laki-laki yang baik (menurut sudut pandang islam). Akupun berkaca, bagaimana dengan aku sendiri? Aku belum bisa jadi perempuan solehah. Bukankah aku sendiri yang membuat kutipan: "jangan bertanya apakah masih ada sosok seperti Ali di dunia ini, tapi tanyakan pada dirimu sendiri, apakah kamu sudah seperti sosok Fatimah?". Harus berusaha, harus istiqomah!

Then I found you. Mungkin Allah menjawab pertanyaanku tentang apakah masih ada lelaki soleh tapi yang tak terlalu (garis keras).
Seseorang yg aku nilai memiliki pengetahuan agama yang dalam, tahu ilmu-ilmu agama yang aku hanya mengenal judul-judulnya di Madrasah Diniyah dulu, dan aku pikir, memenuhi kriteria menantu idaman Bapakku.
Kamu membuatku berpikir bahwa rupanya laki-laki baik masih ada.
Aku hanya membaca tulisan-tulisanmu, kutipan-kutipan yang kamu bagikan, percakapanmu dengan teman-temanmu, dan caramu menanggapi sesuatu.
Aku kagum, sejak aku bahkan belum melihat fotomu.

Rupanya tidak cuma cerdas spiritual. Kamu cerdas akademis, di luar kemampuan rata-rata. Kamu punya wawasan yang luas dan multi talent.
Aku tidak menilai fisikmu. Aku mengagumi kepribadianmu. Kemampuanmu yang membuatku selalu teringat Bapakku di rumah.

Dan hari ini aku salah. Aku salah karena terang-terangan menggali lebih dalam tentangmu.
Dunia maya membuat kita lancang melihat-lihat.
Ayahmu, aku baca lulusan pendidikan matematika, aku pikir guru matematika. That's nice, guru adalah profesi yang mulia.
Tapi aku membandingkan gelar itu dengan Bapakku, yang mungkin gak kenal apa itu trigonometri, apa itu akar-akar.
Kamu anak seorang yang berpendidikan. Tidak salah anaknya hebat.
Aku semakin kagum, dan aku minder.

Aku lihat foto ayahmu di Singapura, sedangkan Bapakku, luar negeri? masih hanya "bermimpi" bisa ke tanah suci. (kabulkanlah ya Allah, amin)

Kalau biasanya kita kecewa dengan kenyataan buruk tentang orang yang kita kagumi, kini aku kecewa dengan kenyataan orang yang aku kagumi terlalu tinggi: bahwa kamu tidak dari keluarga sederhana.

Aku lihat foto keluargamu, dan aku melihat bagaimana keluargamu "good looking". Kakakmu cantik, dan juga yang lainnya.
Hatiku semakin mengecil, kamu terlalu sempurna.

Terakhir, aku baca sebuah komentar yang aku menangkap bahwa rupanya ayahmu bukan guru, tapi kepala sekolah!
It's too high, too perfect.
Kamu orang hebat dan anak orang hebat. What about me? I'm nothing.

Then I'm regret.
Aku menyesal menggali segala sesuatu tentangmu, aku menyesal telah "tidak sadar" menunjukkan bahwa aku ingin tahu banyak tentangmu.

Seharusnya pertemanan tidak memandang ini semua kan? Tapi kenapa? Aduuh, aku merusak pertemanan ini dengan kekagumanku. Harusnya aku tidak melakukan ini semua.
Tapi apapun itu, aku tetap kagum. Aku tidak peduli yang lainnya. Yang aku tahu, kamu seorang yang (semoga) soleh.

Terima kasih, kamu yang menghidupkan lagi semangatku saat aku jatuh. Itu sudah cukup membuatku senang. Dan aku senang punya teman orang baik-baik, di saat aku pikir di dunia ini sudah sedikit orang yang benar-benar baik.
Aku hanya mengagumi kepribadianmu. Harusnya aku tidak perlu tahu yang lainnya.

Tapi aku kecewa, seperti halnya ketika melihat tokoh utama film-film bernuansa religi (contohnya Anna Althafunnisa di KCB) yang digambarkan memiliki segalanya: cantik, pintar, kaya, anak kyai. Aku ingin ditunjukkan bagaimana kesederhanaan yang islami itu bisa menyejukkan dan membahagiakan (sudah cukup menemukan di buku Sandiwara Langit).

Kenapa begitu lengkap kelebihanmu, aku hanya menginginkan kepribadianmu.
Aku ingin kepribadian yang seperti itu ada pada orang yang sederhana.

Dan aku masih tidak tahu kenapa aku menangis....
0

Buku.. dalam tanda kutip.

Ratna Mnc Saturday, November 12, 2011
Ya Allah, aku seneng seruuu!

Simpel, dan hal biasa mungkin menurut orang-orang. Tapi beginilah aku, yang tidak cuma mudah kecewa. Aku juga mudah merasa senang dan mensyukuri apa yang aku dapat. Sekalipun orang berkata itu hal kecil dan menganggap rasa senangku lebay, it's big thing for me!

Aku tidak sama dengan kalian. Tidak semudah memetik mangga dari pohon.
Lima tahun aku menunggu, terkadang kutangisi. Kuusir dari pikiran tapi aku tak bisa membohongi diriku di alam mimpi.
Sekarang, aku tidak tertawa ataupun berjingkrak-jingkrak, tidak pula merasa senang seperti rasa senang pada umumnya. Aku hanya diam. Seperti duduk di bawah pohon yang teduh, rasanya..... lega. Aku tidak tahu harus berkata apa.
Yang pasti, aku sangat bersyukur.
It's best part of my life than ever.

Tapi jangan lupa ten: Bersama karunia yang lebih, terdapat tanggungjawab yang lebih..

Alhamdulillah..
0

Sunrise

Ratna Mnc Sunday, October 30, 2011


Di rumah, sangat menyenangkan. Habis muter-muter, lewat sekitar SMP dan SMA.ku dulu, tapi Bang Ji (penjual masgor dan soto) sama pak jus langgananku dulu gak ada. mungkin karena hari minggu.

Kepulanganku minggu lalu, minggu lalunya lagi, saat sedang sakit jiwa dan raga (hohoo), aku sms ibuku.
aku: aku pulang, lapar belum sarapan. udah sampe osowilangun. (maksudnya biar disediakan sarapan. hehe)
ibu: sendiri apa tidak? (maksudnya disiapin sarapan cuma satu ato lebih, karena pernah pulang sama dia, beberapa kali makan bareng di rumahku)
aku: sendiri. sudah putus.

Percakapan soal itu hanya sampai di situ. Aku heran kenapa ibuku tidak pernah mempertanyakan, aku pulang atau balik ke sby bareng teman cowok yang lain juga tidak berkomentar, tapi sejujurnya aku senang ketika tidak dipertanyakan. Aku gak bisa ngomong, aku gak bisa menceritakan semuanya. Terlalu menyakitkan dan menjijikkan. Aku juga malu dengan omonganku yang dulu menceritakan baik-baiknya dia, yang aku sendiri gak pernah nyangka seburuk itu. Perkataan yang sudah terucap mana bisa dicabut? jadi aku diam saja. Dan aku senang karena hal itu tidak ditanyakan. Hari-hari di rumah diisi dengan main sama keponakan-keponakan yang menggemaskan, aku senang..

Sekarang aku tahu kenapa ibuku tidak pernah membahas, rupanya sudah tahu. Baru saja ibuku berkata:
ibu: gak usah sedih, ada banyak laki-laki baik.
aku: wes gak sedih kok.
(hanya segitu percakapan kami, aku gak pengen dibahas lagi. saking buruknya menurutku terlalu gak layak untuk didengar oleh ibuku)

Jadi selama ini aku lupa kalo kakakku sendiri teman FBku, setidaknya aku senang tidak perlu aku yang bercerita.

dalam hati:
Memang aku gak sedih ibu, aku gak peduli soal putus, aku sudah gak bakal mau dgn orang itu, sekalipun orang itu bersujud di kakiku! Ini hanya kekecewaan yang begitu besar terhadap semua pihak yang terkait. Ini juga soal adaptasi karena aku tetap harus berada di lingkungan itu, yang aku sudah muak dengan orang-orangnya. Tapi aku bisa, percayalah aku bisa. Mereka yang akan dapat balasan dariNya :)

"every dark night is followed by a light morning, right?"

nice sunday :D

[picture from: myinternalsunshine25.blogspot.com]
1

Tentang -Pilihan-


[ foto diambil dari dalam len SG, tapi sudah beberapa bulan lalu ]
Kalau bukan karena kuis metstat dan dosennya Bu Farida, mungkin aku masih enggan kembali ke kota ini. Tapi barusan ingat pesan dari seorang teman beberapa hari lalu, ada hadits yang cuplikannya begini: “Ketahuilah bahwa apa yang semestinya tidak menimpa kamu, tidak akan menimpamu, dan apa yang semestinya menimpamu tidak akan terhindar darimu”. Jadi mungkin bukan semata-mata karena metstat sih.

Setengah tujuh berangkat dari rumah, berharap perjalanan lancar dan masih ada waktu untuk membaca fotocopyan di kos walaupun mungkin hanya 5 menit, karena kuis dimulai jam sembilan.

Setelah perempatan Kebomas, turun dari “kura-kura” ijo tua dan menanti “si cepat” ijo muda. Tak berapa lama, ada dua angkutan umum ijo muda (Surabaya-Gresik) menghampiri. Aku bingung mau naik yang mana, karena tadi juga gak jelas yang tak panggil dengan lambaian tangan yang mana. Akhirnya ketika salah satu yang tak lihat tampak di dalamnya ada penumpang perempuan (paranoid kalo perempuan sendirian di angkot), aku naik.

Di dalam angkot, biasanya aku memasang handsfree HP dan memutar musik, apalagi kalo pak sopir memutar lagu-lagu dangdut atau semacamnya yang liriknya ambigu, hate it! Tapi angkot ini pak sopirnya memutar sholawat nariyah dan qasidah-qasidah. Tumben ada angkot kayak gini. Saya dengarkan sambil gak terasa ikut bersenandung, dulu waktu kecil suka sekali, rupanya aku masih hafal. Aku jadi gak perlu pake handsfree, lebih sejuk begini. Jadi bersyukur tadi milih yang ini, yang entah awalnya dengan pertimbangan apa kok yang pertama “tak lihat” yang ini. Terkadang beginilah yang namanya pilihan.

Angkot melaju dengan cepat, sambil berebut penumpang dengan angkot-angkot yang lain. Sementara itu aku masih bersenandung sambil melamun, berpikir. Seperti inilah kerjaanku kalo di angkot. Gak henti-hentinya mikir. Apapun yang tak lihat pasti tak pikir. Tapi aku sadari di sinilah tumbuh kepekaan, yang tidak begitu kurasakan ketika naik sepeda motor apalagi mobil (apa karena kendaraan yang digunakan, sehingga banyak pejabat tidak peduli nasib rakyat jelata?).

Mengapa aku bilang di sini tumbuh kepekaan? Karena di sini aku melihat bagaimana kernet berteriak-teriak kepanasan cari penumpang, ibu-ibu dengan dandanan kusut berjalan membawa barang-barang begitu banyak, pemulung yang dengan sabar memilah-milah sampah, atau pengamen dan peminta-minta di jalanan. Dengan melihat, mengamati, dan berpikir, aku sadari bagaimana yang namanya kesenjangan, bagaimana bersyukur, dan bagaimana perjuangan bertahan hidup. Itu dari sisi eksternal. Di sisi internal, aku melihat bagaimana yang namanya kepedulian, dan lagi-lagi juga kepekaan (ketika ibu-ibu yang sedang hamil atau nenek-nenek yang sudah tua duduk di dekat pintu kepanasan), dan belajar menjaga diri. Perasaan yang selama bertahun-tahun ini tidak aku dapatkan di tempat lain, hanya di sini. Di sinilah aku tumbuh, di angkutan umum.

Ujung-ujungnya lamunanku terbawa ke arah masalah itu. Bukan lagi masalah, tapi sesuatu yang masih mengganggu kestabilan emosi dan semangatku. Bukankah aku bahagia memahami hidup dengan seperti ini (di angkot) selama bertahun-tahun? Satu tahun memang bukan waktu yang singkat dalam hal interaksi intensif dengan orang yang awalnya asing lalu telah kuanggap seperti keluargaku sendiri. Tapi telah berapa lama aku hidup? 19 tahun.. Dan memang sebenarnya seperti inilah aku, seperti sekarang ini, duduk di angkutan umum dalam diam tapi tak henti-hentinya mengamati dan berpikir. Bukan aku yang selama setahun ini dimanjakan, yang menyebabkan hilangnya kepekaan, kemandirian, dan ketegaran. Apalah artinya satu tahun dibandingkan 18 tahun sebelumnya aku baik-baik saja? Pikiran itu seperti kilatan cahaya putih. Sepintas memang, tapi aku sengaja memperlambatnya agar merasa puas, lega, dan sedikit recharge semangat.

Terlalu asyik dengan lamunan dan qasidah, terminal Osowilangon sudah terlewat. Padahal aku mau naik WK (Wilangon-Keputih), aduh bagaimana ini. Kalo turun sekarang malah takut, kalo len WK gak lewat-lewat, aku “mbambung” sendirian dunk di pinggir jalan yang sepi dari pemukiman penduduk. Kalo gak turun, aku bisa turun di JMP dan naik len O. Tapi itu agak lama, bagaimana dengan kondisi belum belajar sama sekali karena semua buku dan fotocopyan di kos?

Bingung. Sejenak aku memutuskan tidak ada cara selain tetap di situ dan turun nanti di JMP. Ada len WK di belakang “si cepat” yang aku naiki, aku ingin turun tapi proses turun akan cukup lama karena aku berada di pojok belakang. Takutnya len WK sudah amblas ketika aku menginjakkan kaki di jalan. Mau bilang ke pak kernet, kondisinya angkot melaju dengan cepat dan suara qasidah yang diputar sehingga percuma, suaraku tidak akan terdengar. Aku merasa aku butuh sampai di kos dengan lebih cepat, angkutan yang aku naiki ini juga lajunya cepat sehingga ada jarak yang cukup dengan len WK, jadi kalopun aku turunnya butuh proses, aku gak akan ketinggalan len WK, pikirku. Tapi masih ragu antara turun saja atau tidak, dan dipikir-pikir, mumpung ada kesempatan, selagi belum sampai di pertigaan Margomulyo (di situ len SG lurus, len WK belok kanan). Keputusan akhirnya aku turun dan oper ke len WK.

Di dalam len WK aku duduk di depan (sebelah sopir) dan lagi-lagi aku berpikir. Tadi aku terperangkap dalam kenyamanan. Hmm, tak ubahnya seperti setahun ini. Ah lagi-lagi aku menghubung-hubungkan, tapi ada benarnya juga. Dari awal aku memilih antara 2 len SG, aku memilih dengan tepat. Memilih antara turun atau tidak juga ternyata tepat. Ah andai pilihanku selalu tepat. Tapi kalopun aku pernah salah, seperti tadi terlena dengan kenyamanan len SG sehingga melenceng dari tujuan awal (turun di Osowilangon), pada akhirnya masih bisa berlanjut seperti tujuan awal, karena kesempatan itu masih ada (tetep bisa naik WK karena belum sampe pertigaan Margomulyo). Kalopun tadi Margomulyo sudah lewat, masih ada opsi turun JMP walaupun sedikit lebih lama. Jadi, aku selalu masih punya kesempatan. Aku masih bisa merubah. Tidak berarti setelah tersesat aku hanya bisa melongo membiarkan tersesat seterusnya. Aku masih bisa merubah jalanku!

Angkot tetap melaju, kali ini secepat “si ijo muda” karena lewat tol. Pak sopir sedari tadi mendengarkan radio yang disetel cukup keras, akhirnya aku ikutan mendengarkan (karena untungnya lagu-lagu pop, asiik lagi-lagi aku beruntung hari ini, gak naik angkot yang lagunya dangdut).

Terdengar lagu ini, yang sudah tidak asing di telinga tapi aku gak tahu siapa penyanyinya, dan tidak pernah dengan sengaja mendengarkannya. Lha yang semacam ini bukan seleraku. Tapi dalam diam kudengarkan juga kali ini.

“Kau yang telah memilih aku, kau juga yang sakiti aku.
Kau putar cerita, sehingga aku yang salah.”

Sialan ni angkot, kok mutar lagu kebetulan yang pas. Tapi tetap tak dengarkan juga, cukup menghibur (apa karena mikir berarti ada banyak juga yang mengalami hal yang sama denganku makanya sampe dibikin lagu? ah entahlah, tadi gak sampe mikir gitu).

Setiap hal-hal kecil yang kita alami, sebenarnya bisa jadi sebuah filosofi untuk hal yang lain.
Alhamdulillah kuisnya gak buruk-buruk amat. Dan sesuai rencana, cuma sempet baca catatan gak sampe 5 menit.
(selalu saja aku gak bisa bikin ending yang bagus).
2

Tentang Buku, LAGI

Ratna Mnc Monday, October 17, 2011

Ibu.. kutulis ini dengan deraian air mata yang tidak sanggup lagi kutahan..
Meskipun kau tidak mungkin membaca ini, biarlah aku ungkapkan isi hatiku di sini. Karena aku tidak sampai hati untuk mengatakannya langsung. Aku tidak mau membuatmu bersedih, walaupun saat ini aku kesakitan.
Oh ya itu foto kita dua tahun lalu, waktu naik becak dari sekolah ke puskesmas industri. Waktu itu habis pengambilan rapot dan aku mau tambal gigi. Pengalaman tambal gigi yang pertama, jadi aku gak berani sendirian. :)
Itu satu-satunya foto berdua kita, karena memang di keluarga kita tidak ada yang narsis. Hmm, kalau kau membaca ini pasti akan bertanya narsis itu apa. Hidup ini memang juga berisi istilah-istilah tidak penting, ibu...

Ibu..
Sejak kecil aku selalu jadi anak yang pengertian kan. Aku tidak pernah merengek-rengek minta sesuatu. Setiap aku minta sesuatu, saat kau jelaskan keadaaannya, aku bisa mengerti. Keinginan itu aku pendam dalam hati, berharap kelak ketika aku menjadi seorang ibu, aku bisa menuruti permintaan anakku. Aku bisa mengerti keadaannya. Aku mengerti seandainya engkau mampu, pasti kau akan menuruti keinginanku. Tapi sejak kecil aku selalu memendam kan, aku tidak pernah minta keinginanku dituruti sampai mogok sekolah, mogok belajar, dan sebagainya seperti yang terjadi pada anak-anak lain.

Aku mohon, kali ini saja. Ini bukan keinginan, engkau tahu ini sudah lama menjadi kebutuhan. Sampai kapan seperti ini. Aku tidak bisa menunggu terlalu lama, aku lelah.. Aku tidak sampai hati untuk berkata aku tidak mau kuliah lagi kalau ini belum dituruti. Tapi inilah kondisinya, sekarang aku tidak punya semangat kuliah seperti dulu. Aku tahu aku berpikir kekanak-kanakan kali ini, tapi sejak dulu aku selalu harus berpikir lebih dewasa dibandingkan usiaku kan. Aku tahu kondisinya, tapi kita bisa berusaha maksimal dengan mengambil sedikit resiko.

Sejak kecil aku ingin seperti anak-anak yang lain, seperti teman-temanku, tapi itu tidak bisa. Aku tangisi bagaimanapun itu sudah tidak bisa hingga keinginan itu berubah seiring berjalannya usia, tapi obyeknya tetap sama. Sekarang tidak berarti aku ingin seperti teman-temanku, tidak. Justru aku ingin berbeda, dan aku ingin ibu yang seperti ibunya teman-temanku.

Sudah berapa lama aku berharap, berdoa, dan menunggu.. memang tanpa usaha apa-apa karena memang tidak bisa. Sudah berapa kali hal ini menjadi sesak di dada dan aku tangisi diam-diam. Dua tahun aku menunggu, tidak sampai dua bulan aku merasakan sesaat, kemudian diambil lagi dan aku menunggu lagi tiga tahun. Itu bukan waktu yang singkat, ibu..

Selama bertahun-tahun aku berusaha keras tidak mengingat itu, aku berusaha meyakinkan diriku bahwa tanpa itu aku masih bisa hidup dan baik-baik saja hingga saat ini, walaupun tidak maksimal. Aku bisa membujuk hatiku untuk tidak memikirkannya di alam nyata. Tapi lagi-lagi soal siluman mimpi, dia tidak bisa dibohongi. Hal itu seringkali muncul dalam mimpiku, dan saat terbangun aku menangis. Aku menangis karena itu hanya mimpi. Aku menyesal kenapa aku terbangun. Rasanya aku ingin hidup di alam mimpi saja, karena di kehidupan nyata hal itu tidak ada. Rasanya di mimpi jauh lebih menyenangkan, rasanya aku tidak siap dengan kenyataan. Begitu yang aku alami bertahun-tahun.

Aku ingin mandiri, ibu. Aku orang yang tidak suka diam saja, dan berpura-pura malas melakukan apa-apa padahal sebenarnya tidak. Aku bosan menjadi "penodong" ketika pulang. Aku bosan melihatmu kepanasan di depan kompor berjam-jam hanya untuk uang yang tidak sampai dua puluh ribu setiap harinya. Seiring bertambahnya usia, aku ingin menangis melihat itu, ibu. Sudah lama aku ingin kau seperti ibu-ibu yang lain, seperti ibu teman-temanku, aku ingin kau bisa menonton televisi, bersantai, dan tidur siang. Aku ingin menangis kala melihat ibu teman-temanku setiap hari enak-enakan.

Semua itu sudah puluhan tahun tidak kau rasakan kan? Aku benci melihatnya, ibu. Sampai kapan semua itu? Apa harus menunggu aku lulus? Itu terlalu lama. Usiamu sekarang sudah kepala lima. Aku takut kau pergi sebelum masa itu. Aku takut :'(

Ibu, aku benci terus-terusan meminta. Aku ingin ini yang terakhir, satu-satunya hal yang membuat aku merengek-rengek meminta, dan selanjutnya aku ingin bisa memberi, atau setidaknya sudah tidak meminta lagi. Aku ingin kita memulai perubahan..

Tuhan, lancarkan jalanku.. amin..
0

Ke Mana Harus Berlari?

Ratna Mnc Sunday, October 16, 2011

Jam setengah 11 pagi, bisa dikatakan siang untuk orang yang belum sarapan sepertiku, sambil perut sakit rutin bulanan, aku pulang. Tangan gemetar, kepala agak melayang-layang, perut sakit, rasanya seperti mau pingsan, tapi aku tahan, yaa aku tahan agar jangan sampai jatuh di jalan.
Aku memang sudah lelah hidup, tapi aku belum berani mati. Apalagi kalo belum waktunya mati, malah bisa lebih kacau, naudzubillah..

Aku pulang, inginnya gak kembali lagi,. aku muak, aku muak dengan wajah-wajah penjahat, aku muak dengan wajah-wajah yang memancarkan rasa kasihan, atau wajah-wajah yang hanya suka berbicara di belakang, bisa jadi yang dibicarakan itu ditambah atau dikurangi.

Aku muak dengan ini semua. Aku melakukan hal terbodoh hari ini. Tapi selama ini sudah lama gak sadar dalam kebodohan kan? Setidaknya berharap ini kebodohan terakhir.

Aku tidak mengibarkan bendera permusuhan. Selama ini aku tidak pernah punya musuh. Terkadang memang ada orang-orang yang kurang kita sukai, tapi aku tidak pernah membenci orang sebelumnya.
Aku begitu kecewanya. Kalian masing-masing adalah orang yang pernah aku puji di depan orang lain, orang yang pernah aku kagumi dalam hati. Tapi rupanya aku terlalu naif, terlalu bodoh dalam menilai, selama ini aku berharap semua orang itu baik, yaah aku tahu orang-orang yang tidak baik, seperti ketika mendengar perbincangan penjual asongan di terminal, tapi aku kira, orang dari kalangan akademis orang baik.

Sepanjang jalan menuju rumah, terbayang canda tawa yang indah, masa-masa bahagia. Jalan kalianak, es tebu, kepala-kepala truk, dan semua yang pernah jadi topik perbincangan kita.
Sudah, cukup ten, (ah aku rindu dipanggil ten, rindu aku yang dulu) jangan diingat-ingat. Pikirkan masa depan.

Masa depan? aku mau apa sekarang? Aku enggan kembali ke kampus itu, tapi bisa apa? Apa aku akan menyerah hanya karena ini dan menghancurkan mimpi orang tua?

Tapi aku lemah sekarang, semua bilang tubuhku semakin kurus. Bagaimana tidak, sudah gak nafsu makan sama sekali, perut sakit tapi makanan gak bisa masuk. Rasanya kerongkonganku punya pintu gerbang yang tutup saat aku gak punya semangat. Pikiran gak pernah henti. Berharap saat tidur menjadi saat melupakan semua masalah. Berharap tidur adalah pelarian. Tapi rupanya tidak. Siluman mimpi tidak mau membiarkan otakku berhenti sejenak. Mimpi-mimpi indah yang hadir, indah memang, tapi diakhiri dengan tangisan ketika bangun.

Lalu ke mana saya harus berlari?
 
Copyright 2010 - MNC's SPACE -